Gus dan Za
Kata ibu, Gus sudah belajar menggambar dari kecil. Alirannya realistis. Kata ibu juga, Gus pernah menggambar wajah kakek sedemikian mirip. Menggambar ayam dan kucing sedemikian nyata. Gus pandai berimajinasi.
Dulu, aku benci menari balet. Kupikir gerakan itu benar-benar menjemukan dan aku tak tahan dibentak-bentak terus oleh guru baletku. Kakiku juga bukan tipe kaki ballerina. Ia cenderung melebar dan keras seperti kaki petani dan buruh pekerja. Tanganku bukan tipe tangan yang lentik dan gemulai. Ia bergurat kasar karena terbiasa bekerja dan berkarya. Dahulu, aku sangat senang menggambar Gus. Sewaktu Gus tengah beranjak remaja, aku kecil belajar melukis sejak duduk di taman bermain.
Kini Gus, kusadari, menggambar bukan keahlianku. Itu kekuasaanmu. Gus-ku mengungkapkan rasa secara visual. Sedang aku..bohemian muda ini mengungkapkan rasa melalui bahasa verbal. Aku mencintai untaian kata, laptop dan kursor yang berkedip. Pensil dan kertas yang jadi makanan mu adalah lembar yang kujadikan sebagai hobi. Tapi menulis adalah nafasku dan nafsuku.
Kau sederhana mencoret garis dan titik. Aku dramatis membait kata dan kalimat.
Betapa berbedanya kita sayang..
Kau senang dengan kegiatan fisik yang menghabiskan tenaga dan sebagian besar waktumu. Aku lebih senang melamun dan memandangi hujan dari balik tirai kamar. Hingga tetes terakhirnya jatuh di depan pelataran kamarku.
Kau mencintai duduk berjam-jam berkutat dengan proyek. Mengejar kejayaan bagi diri dan keluargamu. Sedang aku lebih memilih untuk asyik mengaduk air kopi sambil mendengarkan betapa denting sendok dan bibir cangkirnya melantunkan irama yang memberiku inspirasi “secangkir kopi, PC, dan tv 14 inchi” yang hingga kini belum rampung kutulis.
Kau begitu disiplin dan tertata. Dan aku lebih mencintai kedinamisan hidup serta gejolak dalam setiap kejutan. Aku selalu punya rencana tapi aku tak pernah butuh organizer untuk mendatanya.
Kau membuang setiap sampah, aku memilahnya dan menyimpannya sebagai harta. Bagimu benda kadang tak berarti, bagiku setiap benda memiliki nyawa dan berharga. Ia menyimpan waktu, kenangan dan bahkan masa depan.
Kau Da Vinci Code yang rumit dan berat, sedang aku chick-lit yang begitu berwarna dan absurd.
Betapa berbedanya kita sayang…
Masihkah engkau mencintai gadis yang benaknya senantiasa hidup dalam dongeng ini Gus-ku?
Yang gaun putihnya melambai bersama dengungan halus mesin digitalnya..
Yang tertidur dengan lelap di tengah tumpukan buku yang terbuka..
Yang di pangkuannya duduk seekor kucing kampung yang mendengkur malas..
Masihkah Gus..?